Selasa, 29 September 2015

✿ Nurul Aulia, Penguji Penghafal Quran Termuda.


[Kisah Hafiz Al Qur’an dari Seluruh Dunia]
✿ Nurul Aulia, Penguji Penghafal Quran Termuda.

Ada yang menarik di balik pelaksanaan Wisuda Akbar penghafal Alquran yang digelar Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA) Pesantren Daarul Quran, pimpinan Yusuf Mansyur di Gelora Bung Karno, kemarin. 

Memang, para peserta ujian menghapal Alquran banyak yang masih belia. Tapi yang lebih menarik, ada penguji yang tak kalah muda. Perempuan manis berkerudung hitam.

Nurul Aulia Zahra namanya. Perempuan berusia 13 tahun ini menjadi penguji peserta hafalan Al Quran. "Namanya Nurul, santri dari Pondok Pesantren Tahfidz Putri Daarul Qur'an Cikarang ini menyelesaikan hafalan sebanyak 30 Juz dalam waktu 1,5 tahun. Maka kami berpikir dia layak untuk jadi penguji," kata Direktur Eksekutif Daarul Quran, Tarmizi, kemarin.

Saat ditemui senyum Nurul pun menghiasi wajah manisnya. Nurul mengaku merasa senang ketika dipercaya menjadi penguji di acara yang terbilang besar.

“Alhamdulillah dan bismillah, senang dikasih kesempatan besar ini. Gugup sudah pasti, awalnya gemetar. Motivasi saya menghapal datang dari Orangtua," ujar Nurul.
Menurut Direktur Eksekutif Daarul Quran, Tarmizi, Nurul memiliki kecepatan dan daya ingat yang di atas para santri lainnya.

"Nurul memang memiliki kekuatan yang besar menjadi penghafal Alqan. Sejak awal ia ingin menyelesaikan hafalan 30 juz di kelas 2 SMP. Alhamdulillah tercapai. Nurul juga memiliki prestasi dalam ilmu-ilmu umum," ujar Tarmizi.

Tarmizi berharap Nurul menjadi motivasi untuk teman-teman santri lainnya dan prestasi yang dimiliki dapat bermanfaat untuk dirinya dan orang sekitar.

"Semoga Nurul selalu mengamalkan Alquran yang dihapalkannya, dan bisa bermanfaat. Dan Nurul bisa jadi motivasi santri lainnya, kalau mau berusaha dan ada niat baik Insya Allah jalannya selalu ada," harapnya.


“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)


Rabu, 23 September 2015

✿ Abdurrohim, Jawara Nasional Menghafal Al Quran.


[Kisah Hafiz Al Qur’an dari Seluruh Dunia]
✿ Abdurrohim, Jawara Nasional Menghafal Al Quran.

Pemuda yang ingin melanjutkan kuliah di Mekah ini punya resep khusus untuk mempertahankan hafalannya. "Sering muroja`ah (mengulang hafalan)," tutur dia.

Hafiz dari Lembaga Pembinaan Tilawatil Quran (LPTQ) Kanwil Kemenag Daerah Istimewa Yogyakarta, Abdurrohim, dinobatkan sebagai juara Musabaqah Hafalan Alquran dan Hadis Pangeran Sultan Bin Abdulaziz Alu Su’ud Tingkat Nasional ke VII. Dia berhak mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 48 juta.

"Saya sangat senang dan bersyukur sekali atas k eberhasilan ini," kata Abdurrohim sebagaiamana dikutip dari laman resmi Kementerian Agama.

Sulung dari empat bersaudara ini sudah belajar hafalan Alquran sejak kecil, sejak masih di bangku taman kanak-kanak. Pemuda yang ingin melanjutkan kuliah di Mekah ini punya resep khusus untuk mempertahankan hafalannya. "Sering muroja`ah (mengulang hafalan)," tutur dia.

Pemuda kelahiran Bantul, 28 Maret 1996, ini tak hanya kali ini saja menjadi jawara hafalan Alquran. Tahun lalu, putra pasangan Syamsuri-Siyaminah ini menjadi pemenang kejuaraan serupa Tingkat ASEAN-Pasifik dalam kategori tahfidz 20 juz.

Kala itu, kata dia, kompetitor terberat berasal dari Filipina. Apalagi, ayat yang diujikan dipilih oleh juri. "Ini lebih sulit daripada urut."

Namun akhirnya dia berhasil memenangkan lomba itu dan berhak mendapat uang 13 ribu riyal (sekitar Rp 40 juta) dan naik haji gratis atas undangan Kerajaan Saudi.



※ Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya
¤ Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan
¤ Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya
¤ Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah
¤ Yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
¤ Bahagiakanlah keluarganya
¤ Luaskan rezekinya seluas lautan
¤ Mudahkan segala urusannya
¤ Kabulkan cita-citanya
¤ Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji
¤ Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar.
Aamiin ya Rabbal'alamin.

“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)


 
;